Event 2022

HEALTHCARE OUTLOOK 2022

Healthcare Outlook 2022 “Lingkungan Baru dan Kecukupan Sediaan Farmasi, Vaksin, dan Alat Kesehatan”

Sepanjang tahun 2021 Indonesia menghadapi berbagai tantangan pembangunan kesehatan, khususnya terkait lonjakan kasus Covid-19 di awal tahun sampai Oktober 2021. Upaya pengendalian pandemi Covid-19 di Indonesia sejak awal 2020 telah menjadi pelajaran bagi seluruh pemangku kepentingan kesehatan akan pentingnya memperkuat sistem layanan kesehatan agar kuat dan tangguh dalam menghadapi berbagai ancaman kesehatan di masa-masa mendatang.
Pada saat puncak pandemi di Indonesia pada paruh kedua tahun 2021, Indonesia menghadapi kesulitan oksigen, obat-obatan, alat tes dan terjadi perang harga yang tidak sehat. Selain obat, alat, bahan reagen test antigen maupun PCR menjadi kontroversi dan memicu perdebatan harga sehingga pemerintah turun tangan menetapkan harga maksimum. Program vaksinasi yang sejak awal digadang-gadang penggunaan vaksin Sinovac ternyata berhadapan dengan masalah suplai dan pilihan penduduk akan vaksin tertentu. Bahan baku obat off patent sangat tergantung dengan mekanisme impor, khususnya dari China dan India, yang juga menimbulkan perdebatan kualitas produk. Karena sampai saat ini, hampir semua vaksin COVID-19 dibeli oleh pemerintah, masyarakat belum memiliki informasi tentang harga pasar. Pemerintah mengalokasikan Rp 87 Triliun untuk membeli vaksin COVID-19 di tahun 2021. Nilai ini hampir sama dengan nilai seluruh obat yang dipasarkan di Indonesia. Sementara itu, pemerintah sudah mengantisipasi untuk melepas vaksinasi COVID-19 dengan mekanisme pasar pada tahun 2022.
Pengalaman pandemi COVID-19 telah membuka mata pemerintah tentang lemahnya sistem kesehatan dan rawannya produksi perbekalan kesehatan. Hal itu mendorong pemerintah menetapkan kebijakan insentif produksi dalam negeri, sejalan juga dengan tekad pemerintah untuk memperkuat produksi dalam negeri di berbagai sektor. Berbeda dengan produk-produk yang tidak membutuhkan teknologi tinggi dan bukan barang esensial seperti obat dan vaksin, keharusan persentase tertentu kandungan lokal dapat menghambat suplai obat, vaksin, dan alat kesehatan.
Selain itu, pemberlakuan Perpres No.12/2021 tentang Implementasi Pengadaan Barang dan Jasa belum mampu mengakomodir beberapa tujuan dari diberlakukannya PP tersebut, yaitu mendukung pelaksanaan penelitian sebagai bagian dari inovasi serta meningkatkan pengadaan berkelanjutan. Kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan peneliti yang kuat akan menciptakan inovasi-inovasi yang faktor penting dalam peningkatan kualitas layanan kesehatan dan penurunan biaya dalam jangka panjang. Namun pemberlakuan Perpres No.12/2021 agaknya belum mendukung hal tersebut. Selain itu , merujuk pada terbatasnya kapasitas produksi lokal yang sejatinya belum mampu mencakup kebutuhan nasional, dapat menghambat pengadaan yang berkelanjutan apabila hanya mengandalkan produksi dalam negeri saja.
Berproses ke depan, perlu diketahui sejauh mana persaingan dan juga mekanisme pasar dapat memperbaiki kualitas obat dan alat kesehatan dengan harga yang lebih terjangkau tanpa mengorbankan kualitas? Apa syarat yang harus segera disiapkan oleh industri dan apa saja insentif yang diberikan pemerintah agar industri dapat memenuhi suplai produk inovatif di bidang Kesehatan?

Melalui Webinar “Health Care Outlook 2022” akan mencoba menggali isu-isu terkait sekaligus mencermati bagaimana kebijakan produksi obat, vaksin, dan alat kesehatan dalam negeri dapat menjawab kebutuhan perbekalan kesehatan dan bagaimana pula dampak harga dengan persaingan produk dalam negeri sebagai substitusi

DIALOG PARA PEMANGKU KEPENTINGAN “MASA DEPAN PENYINTAS KANKER DI INDONESIA”:

INOVASI PEMBIAYAAN KESEHATAN UNTUK KEBERLANJUTAN LAYANAN PENGOBATAN KANKER

Future Of Indonesian Cancer Patients: Innovation In Health Financing For A Sustainable Health Services

Jakarta, 05 Maret 2022 – Masih dalam rangka memperingati Hari Kanker Sedunia 2022, Ikatan Ekonomi Kesehatan Indonesia (IEKI) atau dikenal juga dengan INAHEA (Indonesian Health Economics Association) menyelenggarakan kegiatan dialog dengan para pemangku kepentingan mengusung tema ”Masa Depan Penyintas Kanker di Indonesia: Inovasi pembiayaan kesehatan untuk keberlanjutan layanan pengobatan kanker”. Melalui kegiatan ini IEKI bersama dengan para pemangku kepentingan membahas tantangan yang dihadapi dalam penanganan kanker saat ini, terutama dengan adanya keterbatasan akses terhadap pengobatan inovatif dan bertujuan untuk memberikan rekomendasi kepada pemerintah untuk mengimplementasikan berbagai inovasi dalam pembiayaan kesehatan agar layanan pengobatan kanker, terutama dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dapat terus mengikuti perkembangan teknologi kesehatan yang pada akhirnya akan memberikan harapan hidup yang lebih baik bagi para penyintas kanker di Indonesia.

Kanker adalah penyakit tidak menular dengan angka insiden dan kematian yang tinggi dan terus meningkat setiap tahunnya sehingga perlu menjadi prioritas dan fokus semua pihak. Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah berhasil membuka akses bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia, termasuk penyintas kanker, untuk mendapatkan penanganan dan perawatan atas kondisi kesehatan yang dialami. 

Saat ini, perkembangan teknologi pengobatan kanker terus memberikan peningkatan harapan dan kualitas hidup bagi penyintas kanker, namun di sisi lain Pemerintah mengalami keterbatasan pembiayaan untuk menambahkan berbagai pengobatan inovatif ke dalam cakupan JKN. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh The Swedish Institute for Health Economics (IHE) di tahun 2021, ditemukan bahwa negara dengan alokasi pembiayaan kanker yang lebih tinggi menunjukkan keberhasilan penanganan kanker yang lebih baik dibandingkan negara yang memiliki alokasi pembiayaan kanker lebih rendah. Oleh karena itu, pengimplementasian pembiayaan kesehatan yang inovatif dapat menjadi salah satu solusi pendanaan kesehatan. Hal ini tentu memerlukan kolaborasi dengan berbagai pihak sehingga dapat membantu pemerintah untuk memperluas cakupan pengobatan untuk seluruh masyarakat.

gLOBAL SOLUTIONS SUMMIT WORKING SESSION

tASK FORCE 6 T20/G20 INDONESIA

CROSS-COUNTRIES EQUITABLE ACCESS TO INNOVATIVE MEDICINES

The Global Solutions Initiative is a global collaborative enterprise comprised of a network of world-renowned think tanks. It proposes policy responses to major global problems, addressed by the G20, the G7 and other global governance forces. The Global Solutions Initiative’s mission is to provide an intellectual backbone for the T20 process and thereby for the G20, pursued in the spirit of global citizenship for the recoupling of economic, social, political and environmental prosperity. The theme of the Global Solutions Summit (GSS) 2022 is “Listen to the world: Promoting social well-being within planetary boundaries”. It covers the priorities of the G20 and G7. It aims to be a steppingstone to the G/T20 and G/T7 Summits, a place where Think20 and Think7 Task Forces can discuss their work with regard to their policy briefs and where multistakeholder decision-makers can discuss collective approaches to G20 and G7 problems.

The T20 Indonesia is committed to maintain consistency in the agenda-setting to address the most challenging international problems. Thus, the T20 main activities will be spearheaded by 9 (nine) task forces. Each task force commits to curate the best solutions from the global pool of experts and researchers to address various priority issues. One of the Task Forces (TF) of T20 Indonesia is Global Health Security and COVID-19 (Task Force 6/TF-6) chaired by Hasbullah Thabrany, former Dean and Professor of Health Economics and Policy of the School of Public Health Universitas Indonesia. Currently, there are 10 (ten) Policy Areas to be the focus of TF6 T20 that attempt to cover the priorities of G20 and potential health issues that potentially strengthening health systems and various health programs, especially in developing countries (low- and middle-income countries, LMICs) to recover from COVID-19 Pandemic together and stronger.

The availability of innovative treatment is potential to improve the access of essential services medicines. The advance of medical and pharmaceutical technologies has delivered many of new innovative medicines that are much safer and more effective. However, as the costs of research and development of new innovative medicines are high, the prices of those medicines are expensive or very expensive in some developing countries or small countries due to economic scales. Therefore, many patients such as cancer or other chronic, hereditary, or congenital diseases in developing countries may suffer from lack of access of those innovative medicines.

These inequitable conditions will go for many years to come and the SDG indicators of 3.8.2 may continue to demonstrate high proportion of catastrophic out of pocket expenditures on low- and middle-income countries. Cross countries’ experience dealing with such inequity need to be addressed. Indonesia is looking for innovative financial and or other arrangements to solve inequitable access to innovative medicines nationwide. A mechanism that allows cross-sectoral responses will be necessary for responses to minimize the impact of inequitable access of innovative treatments, especially those that are required by patients of chronic diseases. Also, give greater consideration to factors such as health promotion for preventable chronic disease risks, which have a significant impact on health crisis response and need to be addressed in normal times.

On the 2022 GSS Hybrid Session, TF6 will associate a session named “Cross-Countries Equitable Access to Innovative Medicines” as one of the impactful and feasible recommendation from TF6 T20 Indonesia with regard to providing equitable access to innovative medicines in Indonesia as well as in other G20 countries and possibly beyond. This session was co-organized by Center for Health Administration and Policy Studies Universitas Indonesia (CHAMPS UI) as the Host of TF6 and Indonesian Health Economics Association (InaHEA) as the one the Co-Hosts of TF6.